Relationship-Back-on-Track_Chispa-Magazine lowres

Sebelum Tinggal Bersama, Tanyakan ini Pada Dirimu dan Pasangan

Hubungan yang sudah menahun, kedekatan dengan masing-masing keluarga, dan kepemilikan barang “bersama” bisa membuat kita kadang berpikir kita, dan tentunya pasangan, siap untuk menaikkan status hubungan ke tingkat selanjutnya, either bertunangan, menikah atau hidup bersama. Bersamaan dengan ide ini, pertanyaan “are we ready for this?” tidak dapat dielakkan. Tentu keputusan yang kalian ambil akan memberi pengaruh besar pada hidup dan hubungan kalian. Kecil ataupun besar, sharing a roof, bed, and toilet (gulp) is still a big step.

Sebelum terlalu jauh memikirkan konsep ruang tamu dan kamar tidur kalian nanti, baiknya ajukan pertanyaan ini untuk dirimu dan pasangan untuk membuktikan kesiapan kalian.

  • What is my gut telling me?

You’re excited, you’re anxious, you’re a little bit all over the place. Mundur selangkah bukanlah pilihan buruk. Bertanyalah “apa ini langkah yang benar?” pada diri sendiri. Hidup bersama akan penuh tantangan baru dan kalian membutuhkan fondasi yang solid untuk berhasil melewatinya.

Tentu normal saja untuk merasa nervous. Tidak ada dan tidak akan ada hubungan yang sempurna. Yang terpenting adalah kalian berdua sama-sama merasa yakin untuk menjalaninya bersama. If you feel confident in that foundation and you feel like a team, give yourself the green light.

  • Bagaimana kita akan membagi tanggung jawab finansial?

Sebagian orang menolak atau menghindari pembicaraan soal materi dan finansial. Tapi ini hal yang crucialSince you’re both coming from different backgrounds and expectations — and you’re about to combine expenses. Pengeluaran pokok bulanan, konsumsi pangan, belanja furniture, hingga pengeluaran tersier. Terlebih jika pendapatan kalian tidak seimbang.

Sheryl Garrett, co-author Money Without Matrimony, berpendapat bahwa perbincangan soal finansial di awal fase hidup bersama dapat meminimalisir pertengkaran dan konflik akibat uang. One thing’s for sure: Sharing finances is hard, jadi buatlah sistem berbagi yang sama-sama kalian setujui, whether it’s a joint account, or specific expenses “assigned” to each partner, can make it easier to deal with cash challenges as a duo.

  • Akankah kita tetap berkencan seperti sebelumnya?

Saat tinggal bersama, otomatis kamu akan melihat dia setiap saat. Banyak pasangan merasa seberapa sedikit quality time yang mereka dapat setelah tinggal bersama, tentunya jika mereka tidak membuat rencana kencan (nope, side-by-side tooth brushing doesn’t count).

Living together doesn’t eliminate the need to plan things out. Sebaliknya, kalian malah semakin membutuhkan waktu bersama di luar rumah. Jangan hilangkan tradisi friday night kalian. Tandai kalender setidaknya 4 kali dalam sebulan. Habiskan minggu santai berdua di tempat kesukaan kalian. It will keep you close, connected, and anything but boring.

  • Nama siapa yang akan kita pakai?

Kenyataan bahwa hubungan pernikahan tidak selalu berakhir happily ever after memang mencekam. Thank God, there is this thing called prenap. Bukan berharap atau mempersiapkanhal buruk untuk terjadi. Tapi kesepakatan di antara kedua belah pihak tentang segala hal, bila hubungan berakhir dengan perpisahan, sangatlah penting.

Bila prenap terbilang tabu untuk kamu. Ada baiknya membuat perjanjian tentang semua aset yang akan kalian miliki bersama. Tempat tinggal, kendaraan, asuransi, dan tabungan bersama adalah beberapa hal yang utama. Nama siapa yang akan dicantumkan di akte kepemilikan.

  • How will we spend the night?

The good news is you’ll be sharing a bed every night! (Bow chicka wow wow!). And the bad news is you‘ll be sharing a bed EVERY SINGLE NIGHT. Tidak hanya setelah pulang berkencan atau di saat akhir pekan yang merupakan waktu yang pas untuk seks, tetapi juga di malam-malam kamu merasa lelah setelah bekerja seharian.

Betsy Crane, PhD, seorang profesor di Center for Human Sexuality Studies, mengatakan diskusi tentang seberapa sering seks akan dilakukan di awal hubungan sangat dianjurkan. Termasuk seberapa sering kalian membutuhkan waktu untuk relaks tanpa ada ajakan atau sinyal-sinyal nakal dari masing-masing. Rencanakan juga trik-trik agar sesi intim ini tidak terasa monotone.

  • Bagaimana dengan piring kotor?

Kegiatan bersih-bersih memang terlihat seperti bukan masalah besar. Tapi siapa sangka kalau masalah sepele ini jadi faktor terbesar pasangan berargumen dan bertengkar setiap harinya. Kalian harus bisa membagi tugas dengan seimbang. Siapa yang mencuci piring, menyetrika pakaian, menyiram tanaman, menyapu dan pel, serta membersihkan gudang harus didiskusikan. Ini akan mengurangi rasa sebal karena merasa tugas yang dilakukan tidak seimbang.

  • Where do you see your relationship when the lease ends?

Ambil waktu tenang sejenak dan pikirkan apa yang kamu lihat di masa depan hubungan kalian? Apa setelah berkomitmen bersama, punya anak dan memiliki rumah bersama adalah goal hubungan kalian?

Take your time to answer the question. Bila terjawab, ini akan menjauhkan kalian dari asumsi tidak pasti dan rasa kecewa di kemudian hari.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *